Example floating
Example floating
Berita

Dua Pembicara Bedah Buku Puisi Isbedy Stiawan ZS

106
×

Dua Pembicara Bedah Buku Puisi Isbedy Stiawan ZS

Sebarkan artikel ini
Isbedy Stiawan ZS bersama rekan / ist.

Lampung, Tentanglampung.com – Dua sudut pandang analisis membedah kumpulan puisi Isbedy Stiawan ZS bertajuk Satu Ciuman, Dua Pelukan dalam acara yang digelar di Taman Budaya Lampung, Senin (24/2/2025) siang.

Heri Wardoyo, jurnalis, penulis, dan Ketua Satupena Lampung, dalam makalahnya yang berjudul Sungai yang Mengalir di Otak dan Taman dalam Ingatan: Algoritma Puitis Isbedy Stiawan, menyoroti bahwa puisi-puisi Isbedy mengandung jejak emosi dan jiwa yang dalam. Ia menjelaskan bahwa kreativitas seorang penyair adalah hasil dari perpaduan antara pemikiran, visi, dan kontrol kognitif.

“Ketika seorang penyair memandang sungai, otaknya tidak hanya merekamnya sebagai aliran air, tetapi juga mengasosiasikannya dengan berbagai makna: sungai bisa menjadi garis waktu, luka yang mengalir, atau cinta yang tak pernah beku,” ujar Heri Wardoyo, yang juga merupakan mantan Wakil Bupati Tulang Bawang.

Heri membandingkan pendekatan Isbedy dengan beberapa penyair dunia yang juga menggunakan sungai sebagai metafora, seperti William Wordsworth, Robert Frost, dan Emily Dickinson. Ia juga menyoroti simbol taman dalam puisi-puisi Isbedy yang berfungsi sebagai ruang ingatan dan refleksi kehidupan.

“Taman dalam puisi-puisi Isbedy menjadi ruang di mana pengalaman baru dituai dan membentuk ingatan yang lebih dalam. Seperti kata Pablo Neruda, ‘Bunga-bunga tumbuh dari luka yang kita siram diam-diam’,” kata Heri.

Menurutnya, beberapa penyair lain yang menggunakan taman sebagai simbol dalam karya mereka antara lain T.S. Eliot dalam Burnt Norton, Rainer Maria Rilke, serta Seamus Heaney.

Heri juga membahas konsep algoritma puitis dalam karya Isbedy, menyebut bahwa Satu Ciuman, Dua Pelukan merupakan puncak mutakhir dari perjalanan kreatif sang penyair. Dalam buku ini, sungai bukan sekadar metafora, melainkan simbol dari aliran emosi, permenungan, dan inspirasi.

Makna Cinta dalam Karya Isbedy

Sementara itu, Ari Pahala Hutabarat, Direktur Artistik Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung, menyoroti tema cinta dalam kumpulan puisi ini. Menurutnya, cinta dalam karya Isbedy adalah anugerah Tuhan yang terus membangun keterpukauan, keheranan, dan keinginan untuk selalu jatuh cinta pada kehidupan.

Ari mengajak para seniman muda untuk menjadikan Isbedy sebagai contoh dalam proses kreatif mereka. “Isbedy banyak menulis dalam perjalanan. Ini terlihat dari lokus dan titimangsa puisinya. Sepertinya, ia merasa tak bisa berkarya jika hanya berada di kotanya sendiri,” ungkap Ari.

Ia juga menyoroti puisi Cerita dari Perjalanan, yang menggambarkan kontradiksi antara keinginan untuk terus merantau dan keinginan untuk pulang.

“Puisi ini memiliki kontradiksi yang keren! Seperti ada keinginan untuk berjalan, tetapi juga untuk kembali,” ujar Ari.

Acara Dihadiri Banyak Tokoh

Diskusi yang dimoderatori oleh Edi Siswanto, dosen Universitas Lampung (Unila), diawali dengan pembacaan puisi oleh sejumlah seniman, pelajar, dan mahasiswa. Beberapa di antaranya adalah Iin Zakaria, Iswadi Pratama, Dzafira Adelia Putri Isbedy (pelajar SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro), Nurul Arifah dan rekan-rekannya dari Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), serta Juwita Panca Pratiwi (Universitas Muhammadiyah Kotabumi).

Ketua Panitia, Fitri Angraini, mengungkapkan kebanggaannya atas suksesnya acara ini. Tampak hadir dalam acara peluncuran buku yang diterbitkan pada Januari 2025 ini sejumlah tokoh, di antaranya Arman AZ, Imas Sobariah, Kepala Taman Budaya Lampung Ingga Setiawati, Kepala TU TBL Diana Rosa, serta perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lampung.

Selain itu, civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Lampung turut meramaikan acara ini, termasuk STIT Pringsewu, UIN Raden Intan Lampung, UTI, Unila, STKIP PGRI Bandar Lampung, UKMBS Unila, dan KSS FKIP Unila.

“Saya bersyukur acara ini sukses dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung hingga terlaksananya kegiatan ini,” tutup Fitri Angraini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *