LEGISLATIF – Anggota DPRD Provinsi Lampung Budiman AS menegaskan pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pedoman Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) ke-I Oktober yang digelar di Kelurahan Keteguhan, Teluk Betung Timur, Minggu (12/10/2025).
Menurut Budiman, kondisi bangsa saat ini “sedang tidak baik-baik saja”. Ia mengingatkan bahwa pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan harus dijaga dengan menumbuhkan kembali semangat Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Di era digitalisasi ini, gadget punya manfaat besar, tapi juga banyak mudaratnya. Dari maraknya geng motor, narkoba, hingga penyebaran paham terorisme melalui handphone. Kita khawatir anak-anak bangsa kehilangan arah, karena itu penting kita tanamkan kembali nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Budiman juga menegaskan, nilai-nilai kebangsaan harus menjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh arus negatif globalisasi.

Levi Tuzaidi: Generasi Muda Darurat Pancasila
Narasumber PIP-WK, Levi Tuzaidi, mengungkapkan bahwa saat ini generasi muda, khususnya generasi Z, tengah berada dalam kondisi darurat Pancasila.
“Media sosial sangat memengaruhi cara berpikir generasi muda. Padahal, dengan adanya Pancasila, kita tidak mempermasalahkan suku, agama, atau latar belakang apa pun,” kata Levi.
Ia juga memaparkan hasil survei terhadap siswa SMA yang menunjukkan bahwa sejak lembaga BP7 dibubarkan, pendidikan moral dan Pancasila nyaris tidak lagi diberikan secara mendalam di sekolah-sekolah.
Anggalana: Ideologi Adalah Pondasi Bangsa
Sementara itu, narasumber lainnya, Anggalana, menilai bahwa ideologi merupakan pondasi utama dalam membangun karakter bangsa. Nilai-nilai dasar seperti sopan santun, salam, salim, dan cium tangan perlu kembali dihidupkan.
“Ideologi itu pondasi. Kalau pondasinya kuat, bangsa ini akan tetap kokoh,” ujarnya.
Anggalana juga menyoroti hasil indeks toleransi nasional, di mana Kota Bandar Lampung berada di posisi 89 dari 94 kota di Indonesia, yang berarti termasuk kategori rendah dalam tingkat toleransi.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Generasi muda mulai mudah terpengaruh isu SARA dan perpecahan di media sosial,” tandasnya.(**)












