Example floating
Example floating
Legislatif

PIP-WK di Kedamaian, Budiman AS Ajak Masyarakat Hidup Rukun

16
×

PIP-WK di Kedamaian, Budiman AS Ajak Masyarakat Hidup Rukun

Sebarkan artikel ini
PIP-WK Budiman AS/Ist.

LEGISLATIF – Anggota DPRD Provinsi Lampung, Budiman AS, mengajak masyarakat untuk kembali merawat persatuan dan hidup rukun damai di tengah derasnya arus perubahan sosial yang kian menggerus nilai kebangsaan. Ia menilai, tanpa penguatan ideologi Pancasila, bangsa ini berisiko kehilangan arah.

Pesan itu disampaikan Budiman saat sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Tanjung Baru, Kecamatan Kedamaian, Sabtu (31/1/2026). Di hadapan warga, Budiman berbicara tentang kondisi bangsa hari ini, yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja.

“Perubahan teknologi bergerak cepat, tapi moral kita tertinggal. Gadget memang memudahkan hidup, tapi juga membuka pintu bagi masalah besar. Geng motor, narkoba, bahkan terorisme hari ini bisa lahir dari layar ponsel,” kata Budiman.

Anggota Komisi I DPRD Lampung sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bandar Lampung itu menilai, pudarnya nilai Pancasila bukan sekadar isu abstrak, melainkan persoalan nyata yang dampaknya sudah terasa di tengah masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menanamkan kembali Pancasila mulai dari lingkungan terkecil.

“Pancasila jangan berhenti di hafalan. Ia harus hidup di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sosial. Kalau keluarga kuat, lingkungan kuat, maka bangsa ini juga kuat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Budiman juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik terkait kewenangan pemerintah. Ia menilai, minimnya pemahaman sering memicu salah sasaran kritik.

“Contohnya soal jalan rusak di Bandar Lampung. Itu kewenangan wali kota, bukan provinsi. Pemerintah provinsi bekerja dalam skala provinsi, sementara jalan nasional seperti Pangeran Antasari itu anggarannya dari pusat,” jelasnya.

Sosialisasi tersebut juga menghadirkan akademisi Universitas Lampung, Darmawan Purba, sebagai narasumber. Ia menegaskan bahwa Pancasila adalah fondasi utama yang menjaga Indonesia tetap berdiri di tengah keberagaman.

“Kalau pondasinya kuat, bangunan bangsa ini tidak mudah roboh. Pancasila itulah yang membuat kita bisa hidup berdampingan, tanpa saling mempersoalkan perbedaan suku, agama, maupun latar belakang,” ujarnya.

Menurut Darmawan, ideologi Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol negara, melainkan harus hadir dalam sikap sehari-hari: saling menghormati, menjunjung keadilan, dan mengutamakan persatuan.

Acara ditutup dengan pernyataan reflektif dari moderator Levi Tuzaidi yang mengajak peserta merenung tentang keberlangsungan bangsa. Ia membandingkan usia Indonesia dengan kerajaan-kerajaan besar di masa lalu.

“Kerajaan Sriwijaya dengan agama Buddha bertahan sekitar 400 tahun. Majapahit dengan Hindu sekitar tiga abad. Indonesia baru merdeka 80 tahun. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita mempertahankan negeri ini?” ucap Levi.

Pertanyaan itu menggantung di ruang pertemuan, menjadi penegasan bahwa menjaga Indonesia bukan sekadar tugas negara, tetapi tanggung jawab seluruh warganya.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *