Example floating
Example floating
Lampung

Dorong Penerapan ESG di Jalan Tol: Karya Intelektual Praktisi Dapat Jadi Rujukan Kementrian dan Pemerintah Daerah

22
×

Dorong Penerapan ESG di Jalan Tol: Karya Intelektual Praktisi Dapat Jadi Rujukan Kementrian dan Pemerintah Daerah

Sebarkan artikel ini
Dr(Cand). M. Alkautsar, M.M., seorang praktisi Public Affairs/Foto: Ist.

LAMPUNG – Pembangunan infrastruktur selama ini kerap dipahami sebatas proyek teknis dan investasi fisik, sementara aspek keberlanjutan sering dianggap hanya memenuhi tuntutan administratif. Padahal, prinsip keberlanjutan seharusnya menyatu dalam praktik operasional sehari-hari.

Kesadaran tersebut melatarbelakangi lahirnya karya intelektual berjudul “Integrasi ESG Berbasis Kearifan Lokal” yang ditulis oleh Dr(Cand). M. Alkautsar, M.M., seorang praktisi Public Affairs sekaligus peneliti tata kelola keberlanjutan di industri infrastruktur strategis.

Sebagai praktisi yang terjun langsung di lapangan, Alkautsar memahami bahwa operasional jalan tol tidak hanya dipengaruhi oleh regulasi dan faktor finansial, tetapi juga oleh relasi sosial, kondisi ekologi, serta legitimasi publik. Buku ini lahir dari pengalaman panjang di lapangan, diskusi akademik, dan riset terkait tata kelola infrastruktur serta implementasi kebijakan ESG di industri strategis.

Alkautsar menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar profit, tetapi harus menjadi jalan etik yang memuliakan manusia dan lingkungan. Menurutnya, ESG (Environmental, Social, and Governance) tidak semestinya dipandang sebagai tren global semata, tetapi harus berakar pada nilai-nilai lokal yang telah hidup di masyarakat sejak lama.

“Indonesia tidak kekurangan nilai luhur untuk membangun keberlanjutan. Yang kita butuhkan adalah cara mengatur, mengintegrasikan, dan mengeksekusinya secara sistematis,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).

Buku tersebut tidak hanya menyajikan teori, tetapi memuat riset proaktif dari lapangan. Ia menyoroti bagaimana keputusan teknis harian di jalan tol harus mempertimbangkan dampak lingkungan (Environmental), interaksi sosial (Social), serta etika tata kelola (Governance). Karya ini juga diperkaya melalui diskusi bersama guru besar ekonomi dan ahli infrastruktur strategis, sehingga memiliki nilai akademik sekaligus relevansi praktis bagi pengambil kebijakan.

“Pengelolaan jalan tol bukan semata mengalirkan kendaraan, melainkan mengalirkan kepercayaan publik serta menjaga harmoni sosial dan ekologis,” tegas Alkautsar.

Mengapa Memilih Ruas Bakter?

Gerbang Sumatera dan Miniatur Indonesia

Ruas Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (Bakter) dipilih sebagai studi utama bukan hanya karena posisinya yang strategis sebagai gerbang utama Pulau Sumatera, tetapi juga karena Lampung dikenal sebagai wilayah multikultural yang merepresentasikan keberagaman Indonesia. Lampung menjadi laboratorium sosial yang ideal untuk menguji bagaimana infrastruktur berdampak pada relasi masyarakat lintas budaya.

Alasan strategis pemilihan ruas Bakter dalam studi ESG:

  • Gerbang logistik nasional di Pulau Sumatera.
  • Termasuk lima ruas tol terpanjang di Indonesia, dengan dampak sosial dan ekologis yang besar.
  • Menjadi perhatian investor luar negeri, sehingga penerapan ESG penting untuk memastikan keselarasan dengan standar investasi berkelanjutan.
  • Melintasi wilayah multikultur yang menjadikan aspek sosial sangat menentukan.
  • Beririsan dengan permukiman, kawasan konservasi, dan kawasan ekonomi sehingga memerlukan tata kelola ESG yang kuat.

Kompleksitas ini menjadikan Bakter sebagai contoh bahwa operasional tol bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan simpul peradaban yang memengaruhi dinamika ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Harapan Penerapan Nasional

Melalui peluncuran buku ini, Alkautsar mengemukakan harapan agar integrasi ESG dapat menjadi standar dalam pengelolaan infrastruktur nasional.

  1. Menjadi rujukan bagi Kementerian PUPR dan BPJT dalam memperkuat implementasi ESG di seluruh ruas tol Indonesia.
  2. Mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam pengawasan dan pelaksanaan ESG di wilayah masing-masing.
  3. Memberikan insentif bagi ruas tol yang konsisten menerapkan ESG sebagai keunggulan operasional.
  4. Mengintegrasikan ESG ke dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM), sehingga aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi syarat dasar operasional, bukan sekadar nilai tambah.

Karya Proaktif dalam Mengawal Arah Pembangunan

Melalui pendekatan berbasis kearifan lokal, buku “Integrasi ESG Berbasis Kearifan Lokal” menegaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup mengadopsi standar global, tetapi harus berakar pada nilai sosial, budaya, dan etika daerah.

Karya ini memberikan panduan implementatif ESG yang teknis, etis, terukur, dan berorientasi pada masyarakat.

“Keberlanjutan tidak cukup dipahami; ia harus diatur dan dijalankan,” tutup Alkautsar.(Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *