Example floating
Example floating
Berita

Klasika Lampung Soroti Minimnya Ruang Edukasi dalam Festival Krakatau 2026

16
×

Klasika Lampung Soroti Minimnya Ruang Edukasi dalam Festival Krakatau 2026

Sebarkan artikel ini
Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid/Ist.

LAMPUNG – Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menyayangkan masih minimnya ruang edukasi dalam penyelenggaraan Festival Krakatau 2026 dan cenderung seremonial. Agenda tahunan yang menyematkan kata krakatau ini seharusnya menjadi medium refleksi sejarah dan pembelajaran publik tentang peristiwa letusan Gunung Krakatau.

Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan bahwa aspek edukasi seharusnya menjadi salah satu bagian yang harus mendapatkan perhatian serius dalam festival tersebut.

“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan, Ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” ujar Mufid.

Festival Krakatau 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 dan dipusatkan di Lapangan Saburai Enggal, Bandar Lampung, sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN). Rangkaian kegiatannya meliputi festival band, solo song, dance, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, hingga festival mewarnai.

Selain itu, terdapat pula karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur edukasi Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, serta pameran seni rupa dan kerajinan lokal.

Meski ragam kegiatan tersebut dinilai mampu menarik partisipasi masyarakat luas, Klasika menilai masih terdapat kekosongan pada aspek edukasi yang substansial, khususnya yang mengangkat perspektif sejarah lokal.

Salah satu bentuk penguatan edukasi yang diusulkan adalah menghadirkan Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Naskah tersebut merupakan dokumentasi langka yang merekam secara detail dampak letusan Krakatau 1883 dari sudut pandang masyarakat lokal.

“Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik,” jelas Mufid.

Menurutnya, karya tersebut memiliki nilai penting sebagai sumber pengetahuan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian. Padahal, keberadaan naskah seperti “Syair Lampung Karam” dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus literasi kebencanaan berbasis pengalaman masyarakat Lampung.

Klasika mengingatkan bahwa membiarkan Festival Krakatau berjalan tanpa penguatan aspek edukasi berisiko mengaburkan makna historis peristiwa tersebut. Festival dikhawatirkan hanya menjadi agenda hiburan rutin tanpa kontribusi nyata terhadap peningkatan kesadaran publik.

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” tegasnya.

Untuk itu, Klasika mendorong Pemerintah Provinsi Lampung dan seluruh pihak terkait agar menghadirkan ruang-ruang edukasi yang lebih serius dan terstruktur dalam Festival Krakatau ke depan, baik melalui diskusi publik, pameran arsip sejarah, pemutaran film dokumenter, maupun kolaborasi dengan akademisi dan peneliti.

Dengan demikian, Festival Krakatau tidak hanya menjadi ajang hiburan dan pariwisata, tetapi juga wahana pembelajaran yang bermakna bagi masyarakat luas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *