LAMPUNG – Setelah menerbitkan lima buku “rupa-rupa”, penulis cum jurnalis Juwendra Asdiansyah akhirnya menelurkan buku khusus bertema jurnalisme. Buku setebal 368 halaman tersebut berjudul “Kitab Jurnalisme (dari) Lampung”.
Seperti buku-buku terdahulu, Kitab Jurnalisme (dari) Lampung merupakan bunga rampai alias kumpulan tulisan. Ia terdiri dari sembilan bab berisikan tulisan-tulisan reflektif tentang jurnalisme, media massa, kisah-kisah kewartawanan, profil dan obituarium penulis/jurnalis.
“Ada bagian yang membahas prosedur, prinsip, etika, dan nilai-nilai jurnalisme. Ada pula panduan praktis untuk hal-hal teknis seperti reportase, memilih narasumber, wawancara, membuat pertanyaan, dan bahasa jurnalistik,” terang Juwe, panggilan Juwendra, dalam siaran persnya, Kamis, 13/8/2026.
Menurut Juwe, ada banyak tulisan mengandung kritik untuk para pelaku jurnalisme, terutama wartawan. “Siapa yang bisa mengkritik wartawan jika mereka melakukan kesalahan dan penyimpangan? Siapa yang mengawasi kerja-kerja pers supaya tidak tergelincir dan sewenang-wenang?” ujarnya.
Jurnalisme yang baik, tandas Juwe, bukan yang paling senang mengkritik tapi tak sanggup menerima kritik. Bukan yang paling lantang berteriak tapi enggan mendengar. “Seperti kekuasaan, pers yang tak pernah dikritik atau alergi terhadap kritik sangat potensial menjadi tirani,” beber penerima anugerah Tokoh Eksklusif Lampung 2013 dalam ajang Surya Exclusive Award, Desember 2013 ini.
Kata pengantar ditulis oleh Prof Dr Sudjarwo MS, guru besar Universitas Malahayati yang juga eks dekan Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan Universitas Lampung. Dalam satu bagian Prof Djarwo menulis, keunggulan buku ini terletak pada kemampuannya memadukan pengalaman lapangan dengan refleksi intelektual.
Pembaca diajak melihat bahwa jurnalisme bukan sekadar aktivitas menulis berita, melainkan proses intelektual yang menuntut ketelitian, keberanian moral, integritas, dan komitmen terhadap kepentingan publik.
Bagi kalangan akademisi, buku ini memperkaya khazanah studi komunikasi dan jurnalistik Indonesia. Bagi mahasiswa, buku ini menjadi jembatan antara teori dan praktik. Bagi para wartawan muda, buku ini merupakan sumber inspirasi tentang bagaimana menjaga idealisme di tengah perubahan industri media yang sangat dinamis.
Sementara bagi masyarakat umum, buku ini memberikan pemahaman bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang diterima publik.
“Buku ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran yang bermakna bagi pengembangan ilmu jurnalistik di Indonesia sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat selalu membutuhkan jurnalis yang berpihak kepada kebenaran, bukan kepada kepentingan,” tulis satu dari hanya sedikit penulis di Lampung yang sangat produktif saat ini.
Pre-order Kitab Jurnalisme (dari) Lampung dibuka mulai 8 hingga 15 Agustus 2026. Penerbit BumiBima membanderolnya Rp100.000 dan gratis pengiriman untuk wilayah Bandar Lampung. Pemesanan melalui WhatsApp ke nomor 0857 0928 4199.
Juwendra merupakan aktivis pers mahasiswa di Universitas Lampung era 1990-an, Teknokra dan Pilar Ekonomi, hingga menjabat pemimpin umum/ketua di kedua lembaga.
Sebagai wartawan, kariernya antara lain dijalani di tabloid Sumber (redaktur senior, 1998), majalah INDIE (pemimpin redaksi, 2003-2004), Seputar Indonesia-MNC Grup (wartawan, 2005-2009), Tribun Lampung-Kompas Gramedia (redaktur hingga redaktur pelaksana, 2009-2013), Saibumi.com (pemimpin redaksi, 2014), dan duajurai.co (pemimpin redaksi, 2014-2020). Pada September 2022- Maret 2023, dia menjadi pemimpin redaksi Forum Keadilan—salah satu media terkemuka di Indonesia era 1990-an hingga 2000-an.
Khusus materi jurnalistik, selain Lampung, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung 2007-2010 ini telah mengajar di sejumlah kota di Indonesia antara lain Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandung, Tasikmalaya dan Semarang.
Juwe memegang rekor sebagai moderator 35 debat pemilihan kepada daerah, termasuk debat kandidat pemilihan gubernur-wakil gubernur Lampung pada 2018 dan 2024; dan saat ini menjadi pelatih public speaking privat bagi sejumlah tokoh publik dan profesional.
Pada 2004, dia mengikuti Kursus Jurnalisme Sastrawi V yang digelar Yayasan Pantau dengan pengajar utama Janet Steele, guru besar Jurnalisme di George Washington University, AS.
Kembali ke Lampung Juwe mendirikan Bengkel Jurnalisme, lalu memperkenalkan “9 Elemen Jurnalisme”—prinsip-prinsip penting jurnalisme yang disadur dari buku “The Elements of Journalism” karya dua wartawan terkemuka AS, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.(Rls)












