LAMPUNG – Politik tidak selalu tentang angka perolehan suara, kursi parlemen, atau target elektoral. Di balik itu, ada kerja panjang membangun organisasi, menjaga soliditas, dan memastikan setiap kelompok memiliki ruang untuk terlibat.
Bagi Ketua PUAN Lampung, Imelda, S.H., dua hal tersebut kini menjadi bagian dari perjalanan politik yang tengah ia jalani. Di satu sisi, ia optimistis Partai Amanat Nasional (PAN) mampu membidik posisi tiga besar. Di sisi lain, ia membawa pekerjaan rumah yang tak kalah penting: menjadikan perempuan bukan sekadar pelengkap dalam struktur politik, melainkan kekuatan yang benar-benar diperhitungkan.
Optimisme itu disampaikan Imelda dengan satu syarat utama: seluruh kader harus bergerak bersama.
“Kalau semua berjuang, semua bergerak, insya Allah tiga besar itu bukan hal yang tidak mungkin. Memang tantangannya banyak. Semakin tinggi pohon, semakin tinggi juga hal-hal yang nanti akan menghadang,” ujar Imelda, Minggu (23/8/2026).
Bagi dia, target tiga besar bukan sekadar ambisi politik. Target tersebut harus dibangun melalui konsolidasi, kerja bersama, dan soliditas seluruh kader.
PAN, kata Imelda, harus terus hadir di tengah masyarakat. Mesin partai tidak boleh hanya bergerak ketika momentum politik datang. Justru kerja-kerja politik harus dibangun jauh sebelum pertarungan elektoral berlangsung.
30 Persen Bukan Sekadar Angka
Namun, perjalanan politik Imelda kini memiliki dimensi lain setelah dirinya dipercaya memimpin PUAN Lampung.
Sebagai organisasi perempuan PAN, PUAN memiliki posisi strategis untuk mendorong semakin banyak perempuan mengambil peran dalam politik. Bagi Imelda, komitmen terhadap keterwakilan perempuan harus diwujudkan secara konkret.
Ia menyoroti target keterwakilan perempuan sebesar 30 persen yang selama ini kerap hadir dalam berbagai pembicaraan politik.
Bagi Imelda, angka tersebut tidak boleh berhenti sebagai jargon.
“30 persen itu harus benar-benar 30 persen. Jangan cuma sekadar kata-kata, imbauan, atau hanya ada dalam wacana,” tegasnya.
Kalimat itu menjadi penanda bahwa pekerjaan PUAN ke depan bukan sekadar membangun organisasi, tetapi juga membuka jalan yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dan mengambil posisi dalam pengambilan keputusan politik.
Imelda menyadari, tugas tersebut bukan pekerjaan ringan.
Karena itu, langkah pertama yang akan dilakukan adalah membenahi struktur organisasi sekaligus mengubah cara pandang terhadap PUAN.

Membuka Pintu untuk Gen Z
Salah satu perubahan yang ingin didorong Imelda adalah memperluas ruang bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan perempuan muda.
Selama ini, PUAN masih kerap dipersepsikan sebagai wadah perempuan yang sudah senior. Persepsi tersebut ingin ia ubah.
“Kita akan rombak struktur pengurus dan memasukkan juga Gen Z, termasuk yang muda-muda. Jangan sampai PUAN hanya dipandang sebagai wadah perempuan-perempuan yang sudah dewasa. Kita mulai membuka ruang bagi generasi muda,” katanya.
Bagi Imelda, regenerasi bukan sekadar mengganti nama dalam struktur kepengurusan. Regenerasi berarti memberi kesempatan kepada generasi baru untuk belajar, berorganisasi, menyampaikan gagasan, dan pada saatnya mengambil peran dalam politik.
Perempuan muda, menurutnya, harus memiliki ruang untuk tumbuh tanpa harus menunggu menjadi senior terlebih dahulu.
Di titik inilah PUAN ingin ditempatkan bukan hanya sebagai organisasi perempuan, tetapi juga sebagai ruang kaderisasi dan pembentukan kepemimpinan perempuan masa depan.
Dari Provinsi hingga Akar Rumput
Setelah pembenahan struktur di tingkat provinsi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan PUAN tidak berhenti di Bandar Lampung.
Imelda menargetkan organisasi tersebut memiliki jaringan yang hidup di seluruh kabupaten/kota di Lampung. Struktur DPC di 15 kabupaten/kota akan didorong untuk terbentuk dan aktif, kemudian diperkuat hingga menyentuh lapisan masyarakat yang lebih bawah.
Targetnya jelas: PUAN harus hadir sampai akar rumput.
Untuk mewujudkan itu, Imelda memilih pendekatan yang sederhana tetapi membutuhkan energi besar-turun langsung ke lapangan.
“Ketua harus turun ke lapangan. Kita punya 15 kabupaten/kota dan semuanya harus kita datangi. Kita tidak bisa hanya menggaungkan PUAN dari tingkat provinsi, sementara di bawah tidak bergerak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan gaya kepemimpinan yang ingin dibangunnya. Imelda tidak ingin menjadi ketua yang hanya bekerja dari balik meja dan sibuk dengan struktur administratif.
Ia ingin melihat sendiri bagaimana organisasi berjalan di daerah, mendengar persoalan kader, sekaligus membangun komunikasi dengan perempuan dan generasi muda di berbagai wilayah Lampung.
Bukan Sekadar Jabatan
Bagi Imelda, menerima amanah sebagai Ketua PUAN Lampung bukanlah akhir dari sebuah proses. Justru, posisi tersebut menjadi awal dari pekerjaan yang lebih panjang.
“Ini bukan sekadar amanah bahwa saya menjadi ketua. Ada PR besar di depan untuk beberapa tahun yang akan datang,” kata Anggota DPRD Lampung ini.
PR itu mencakup banyak hal: membangun struktur, melakukan kaderisasi, melibatkan generasi muda, memperkuat perempuan dalam politik, hingga memastikan organisasi benar-benar hidup di daerah.
Di atas semua itu, ada satu tujuan yang ingin ia jaga-agar perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan arah politik, bukan hanya menjadi bagian dari angka keterwakilan.
Pada akhirnya, perjalanan Imelda membawa dua misi yang saling berkelindan.
Mendorong PAN menuju posisi tiga besar membutuhkan organisasi yang solid dan mesin politik yang bergerak hingga lapisan masyarakat. Sementara membesarkan PUAN membutuhkan keberanian membuka ruang baru bagi perempuan dan generasi muda.
Dua target itu memang bukan pekerjaan sehari-hari. Tapi bagi Imelda, politik memang tidak pernah dibangun dalam satu malam.
Ia harus dikerjakan dengan konsistensi, turun ke lapangan, menjaga soliditas, dan yang paling penting, memastikan bahwa setiap target yang diucapkan benar-benar memiliki kerja nyata di belakangnya.
Dari target tiga besar PAN hingga ambisi membangun PUAN yang kuat, inklusif, dan dekat dengan generasi muda, Imelda kini memilih jalan yang sama: bergerak dari struktur, turun ke daerah, lalu membangun kekuatan hingga akar rumput.(*)












