Example floating
Example floating
Legislatif

Andika Dorong Warga Amalkan Pancasila Di Lingkungan Keluarga

36
×

Andika Dorong Warga Amalkan Pancasila Di Lingkungan Keluarga

Sebarkan artikel ini
PIP-WK Andika Wibawa/Ist.

LEGISLATIF – Di tengah derasnya arus digital dan banjir informasi yang nyaris tanpa sekat, rumah tangga kini menjadi garis depan pertarungan ideologi dan karakter bangsa. Hal inilah yang ditekankan Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Garuntang, Kota Bandarlampung, Sabtu (17/1/2026) pagi.

Dalam paparannya, Andika menegaskan bahwa ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila hari ini tidak lagi datang dalam bentuk fisik atau ideologi terbuka, melainkan melalui pola hidup digital yang perlahan menggerus karakter, terutama di lingkungan keluarga.

“Sekarang ini kerusakan karakter dimulai dari rumah. Anaknya sibuk nonton Cocomelon, ibunya asyik nonton drakor. Tidak ada lagi dialog, tidak ada pendidikan karakter. Rumah kehilangan fungsinya sebagai ruang pendidikan paling dasar,” tegas Andika di hadapan peserta sosialisasi.

Menurutnya, keluarga seharusnya menjadi benteng pertama penanaman nilai Pancasila. Namun, tanpa disadari, teknologi justru menjauhkan anggota keluarga dari proses pembentukan karakter, empati, dan kebangsaan.

Andika menegaskan, kegiatan sosialisasi Pancasila bukan sekadar formalitas atau rutinitas politik. Justru, forum seperti ini menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali nilai Pancasila dalam kehidupan nyata masyarakat.

“Bukan karena kita tidak tahu Pancasila. Tapi karena Pancasila harus terus dibicarakan, dipraktikkan, dan diingatkan. Kalau tidak ada Pancasila, kita tidak saling mengenal, tidak saling menghormati,” ujarnya.

Ia menambahkan, di era digital saat ini, masyarakat kerap lebih mudah terprovokasi, terpolarisasi, bahkan terpecah hanya karena perbedaan pandangan di media sosial. Tanpa fondasi ideologi yang kuat, kebhinekaan justru bisa berubah menjadi sumber konflik.

Sementara itu, narasumber Agustiono menegaskan bahwa Pancasila bukan konsep abstrak, melainkan lahir dari akar terdalam kehidupan bangsa Indonesia: keberagaman dan nilai keagamaan yang dihayati masyarakat.

“Pancasila itu lahir dari keberagaman dan ketuhanan. Kalau rakyat sudah berketuhanan, pasti beradab. Kita ini sudah punya agama, seharusnya menjadi manusia yang beradab dan bermoral,” jelasnya.

Ia menilai, kekuatan bangsa Indonesia terletak pada persatuan masyarakatnya. Selama rakyat bersatu, ideologi yang bertentangan dengan nilai bangsa tidak akan mendapat ruang.

“Alhamdulillah bangsa ini masih bersatu. Karena itu, ideologi seperti komunisme tidak berkembang. Bentengnya bukan senjata, tapi persatuan rakyat,” kata Agustiono.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa persatuan itu tidak datang dengan sendirinya. Proses pembentukan adab dan karakter justru bermula dari rumah.

“Ibu-ibu ini adalah benteng sekolah dan madrasah di rumah. Kalau peran ini hilang, budaya kita pelan-pelan terkikis. Jangan salahkan sekolah kalau rumah sudah tidak mendidik,” ujarnya dengan nada mengingatkan.

Narasumber lainnya, M Andi Fachri, menyoroti Lampung sebagai miniatur Indonesia yang berhasil menjaga toleransi di tengah keberagaman. Ia menilai, karakter masyarakat Lampung yang terbuka dan legawa menjadi modal besar dalam menjaga persatuan.

“Lampung ini contoh toleransi. Isu SARA hampir tidak pernah meledak. Karena masyarakat Lampung menerima pendatang dari mana pun, dan hidup berdampingan dengan baik,” katanya.

Menurut Andi, kondisi tersebut harus terus dijaga, terutama di tengah maraknya narasi adu domba di ruang digital yang kerap memanfaatkan isu identitas.

“Kalau rumah sudah kuat, sekolah akan terbantu. Kalau keluarga ber-Pancasila, bangsa ini tidak mudah goyah,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *